Nataslabar.com – Bel sekolah berbunyi tanda pelajaran usai. Semua anak-anak membereskan alat tulis dan buku pelajaran, lalu dimasukkan ke dalam tas. Sebelum pulang kami berdoa bersama yang dipimpin oleh wali kelas.

Setelah berdoa saya dan teman-teman keluar ruangan dan pulang. Seperti biasa kami pulang melalui jalan yang sering kami lewati. Sambil berpikir mengenai tugas yang diberikan oleh guru, di pertengahan jalan menuju rumah, mata saya tertuju pada selembar uang 2.000 yang berada di atas kerikil batu di pinggir jalan.

Baca jugaKegagalan Bukan Penghambat Mimpiku

Tanpa pikir panjang uang itu saya ambil, namun saya berpikir dan bertanya, uang itu miliki siapa? Dan kenapa sampai ada di situ?

Sambil berjalan, saya pun sempat berpikir untuk menggunakan uang yang saya pungut tadi. Tapi, di sisi lain saya berpikir uang yang saya ambil bukan milik saya, dan saya tidak tau siapa pemiliknya.

Di persimpangan jalan saya melihat kios, hampir saja uang yang saya pegang dibelanjakan, namun lagi-lagi saya berpikir, kalau uang yang saya ambil adalah hak miliki orang lain.

Baca juga: Petani Yang Rakus

Setelah berpikir panjang, akhirnya saya gunakan uang itu untuk sedekah ke kotak amal biar mendapatkan pahala. *

Penulis : Chelsi, penulis adalah siswi SDK Rana Loba, bergabung di Komunitas Santo Andreas Borong. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here