Nataslabar.com – Waktu itu tengah malam. Tak ada yang memahami ia menangis untuk apa. Ayah duduk termangu sambil menopang dagu dan membiarkan air di matanya berkeliaran begitu saja pada kulit pipinya yang kering keriput.

Nama perempuan itu adalah Ann. Orang-orang di kampung mengakrabinya dengan nama panggilan Mawar. Mawar adalah satu-satunya gadis yang lentik cantik dan lugu. Ramah-tamah adalah ciri yang membedakannya dengan kecantikan gadis-gadis lain di desa. Mawar tak banyak bicara. Kadang ia menjawab teguran orang-orang di sekitar dengan melemparkan senyumannya yang aduhai.

Di desa Mawar dipandang sebagai gadis yang amat baik dan selalu bertingkah sopan. Memang demikianlah yang Mawar lakukan dalam menjalani kehidupannya di desa. Mawar adalah salah satu putri dari keluarga yang cukup sederhana. Sehingga di desa, Mawar sering dilirik oleh pemuda desa termasuk saya. Namun  semua pemuda itu, diabaikan saja oleh Mawar. Ia menganggap itu hanya keganasan masa pubertas.

Ketika Mawar hendak menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas, ia memilih untuk melanjutkan study di daerah perkotaan. Mawar membicarakan keinginannya itu dengan kedua orang tuanya waktu sarapan pagi di dapur yang sempit dan dihiasi asap-asap api. Ayah Mawar sama sekali tidak menyetujui keputusan itu.

Baca jugaBarabas Antologi Puisi Reshky

“Nak. Kau adalah salah satu bagian dari tubuh ayah. Kau adalah wanita mahkota ayah. Ayah tak mau kau ke kota untuk kuliah. Kau tahu sendirikan, bagaimana keadaan di kota sekarang? Banyak kawan-kawanmu yang dihanyut nafsu oleh orang-orang kota. Di kota, ketika mereka bebas dari pengawasan orang tua, mereka nekat melakukan hal-hal paling liar. Mereka tidak menghormati bagian terhormat dari diri mereka” jelas ayah.

“Ayah, kota yang itu hanya kota yang ada dalam pikiran ayah. Yakin dan percaya anak ayah ini gadis baik. Tidak seperti yang ayah pikirkan” Mawar mempertahankan keputusannya. Perbincangan pagi itu pun diakhiri ketika waktu mengharuskan mereka untuk berladang.

Saat senja berangsur dan pelan-pelan tenggelam, Mawar membahas lagi mengenai keinginan dalam hatinya. Tetapi kali ini ayah Mawar terpaksa mengiyakan saja keinginan anak gadisnya. Ayah mulai menduga-duga apa yang akan terjadi nanti. Ibu Mawar pun tak pernah mengizinkan gadisnya untuk pergi apalagi tinggal di kota.

Suasana di kota memang tidak lari jauh dari pikiran ayah. Di kota, apa yang ditakutkan ayah memang benar-benar terjadi. Kau salah langkah saja, maka kau akan kena wabah. Kau akan masuk dalam lingkaran setan.

Sebelum matahari memisahkan embun dan daun, ayah mengantar gadisnya ke salah satu pangkalan di dekat desa kami. Selepas itu ayah kembali ke rumah dengan pikiran yang tidak tenang. Di kepalanya mulai berkecamuk segala kemungkinan negatif yang sewaktu-waktu bisa terjadi; menimpa anak gadisnya. Namun ayah yakin dan percaya apa yang dikatakan putrinya di hari-hari kemarin.

Kehidupan Mawar di kota awalnya aman-aman saja. Ia sering mengabari ayahnya melalui layar pintar. Ayah dan ibu kemudian sepakat bahwa gadis mereka baik-baik saja.

Selama enam bulan, Mawar jarang sekali menghubungi ayah. Walaupun sering saling kabar melalui telepon pintar, itu hanya menyita beberapa menit saja. Sampai setengah jam pun tidak. Kata Mawar, ia sedang sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Ayah hanya bisa mengiyakan saja apa yang dikatakan Mawar. Dengan sangat mudah ayah mempercayai Mawar.

Baca jugaKemeja Kenangan; Antologi Puisi Apri Bagung

Dalam perjalanan waktu, Mawar sama sekali tidak berkomunikasi dengan ayah apalagi dengan ibu. Ia tidak lagi sesering dulu mengabari ayah dan ibu. Sekarang pikiran ayah sudah terlihat semakin kacau dan berantakkan.

Hari itu Mawar genap dua tahun berada di kota. Ayah sangat gelisah dengan gadisnya. Ayah membayangkan yang tidak-tidak. Tak mau larut dalam pikiran yang buruk itu, ayah langsung pergi ke kota untuk menemui gadisnya yang lentik cantik dan lugu itu. Sebelum memasuki kota, ayah mantap harap bahwa gadisnya tidak seperti yang ada dalam benaknya. Tidak seperti gadis-gadis yang melarat dalam kamar.

Kota saat itu penuh kabut. Ayah susah untuk menemui Mawar. Namun tak berhenti di situ saja. Karena sayang yang dalam ayah harus tabah. Pada saat itu ayah berjalan kaki di depan Katedral. Ayah mengaminkan segala doanya untuk Mawar. Untuk kebaikan Mawar.

Malam itu adalah malam yang sungguh sial. Ketika ayah berjalan melintasi penginapan kota, ia melihat Mawar dari jarak yang terbentang tak begitu lebar, Mawar sedang berada dalam pelukan yang ganas. Gadisnya yang lentik cantik dan lugu telah berubah menjadi gadis yang lentik cantik dan  bisa dikatakan licik. Tubuhnya dipermainkan oleh nyamuk-nyamuk nakal di kota. Ayah tak menahan kuasa terhadap kenyataan. Tak bisa menahan air mata membasahi malam. Malam itu ayah menamai gadisnya “Perempuan di sela-sela tangisan ayah”.

Oleh Yulianus Risky Agato. Beliau akrab disapa Risky  Agato. Saat ini beliau melanjutkan pendidikan menegah di lembaga calon imam Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here