Nataslabar.com –  Jangkrik yang selalu terdengar klasik disetiap sudut pondok mungil itu masih terdengar jelas, dan burung pipit yang sedang ramainya berterbangan dikala hujan sore itupun mulai redah. Ataukah mungkin mereka harus snack buat anak yang masih saja tertidur pulas di ranjang. Entahlah…

Seketika itu pula kudengar bisikan kecil anak itu sembari angin sepoi-sepoi menghantui raut wajahnya.

“Ahh dasar sih emak! apakah Dia tidak takut sama angin kencang pada atap langit nan mendung, ketika dia harus terbang, ataukah Dia mau menjadi korban kedua sebagai pilot Sriwijaya Air? Mendengar hal itu sontak sang ayah kaget sembari berkata “Dasar anak otak musum, sadarkah engkau bahwa Emakmu akan pulang dan harus melewati kabut di atas pondok mungil itu. Kulihat anak semata wayangnya itu mulai terdiam dan tertunduk lesu, seakan tak ada seribu bahasapun mau dilontarkannya untuk membantah perkataan sang ayah. Atau mungkin dia harus merenungkan sembari berdoa memohon pelindungan atas  perjalanan pulang Ibunya .

“deres leso sale” Sebagai tanda bahwa semuanya akan pulang dan kembali pada sarang tempat mereka berteduh bertahun-tahun itu. Dan terkadaang yang lain harus bermalam di Pondok mungil penuh nyamana itu.

Kulihat mata sang ayah pun mulai membening entah apa yang dipikirkanya, siulan burung hantu yang kesekian kalinya terdengar jelas disetiap sudut pondok mungil itu, alunan bunyi mesin generator sebagai tanda bahwa sore telah berpamitan dan malam mulai menghampiri, musik “Dere Nenggo” disetiap pelosok kampung mulai terdengar. Tak asing lagi kudengar ketika lonceng Gereja tua pun mulai mengambil alih, memecahkan keramaian sore itu.

Semuanya diam, entah sadar atas besar kuasa sang pencipta hingga suasana jadi tenang. Namun, sesaat kemudian tak sedikit bayangan kulihat di lorong jalan tikus yang biasa Emak lalui entah saat pulang maupun pergi ke ladangnya.

Anak yang tadinya diam dalam sarang itu kelihatan mengamuk atau mungkin lambungnya tak kuat menahan lapar. Lalu, kata sang ayah sembari menenangkanya “Bersabarlah Nak Emakmu pasti akan pulang”. Sambil mengelus pundak sang anak yang tadinya harus memberontak atas usaha kedua orangtuanya. Kulihat ia mulai berkata juga pada ayahnya “Pak mau sampai kapan saya harus berada di situasi sulit  ini? Atau mungkin Pak tak mau saya terus bergumulan dengan keadaan ini yah?”

Sesaat kemudian sang ayah yang tadinya membisu, hanya mampu meneteskan air matanya.”Nak Aya tahu keadaan kamu sekarang ini, tapi kamu juga harus mengerti dengan situasi dan kondisi ayah dan Emakmu. Atau haruskah aku memaksa keadaan supaya memperoleh hasil, aku lebih baik mati dan tidak membuat kamu susah dan menjadi beban buat kalian sekeluarga. “Kata sang ayah setelah semenit terdiam merenung perkataan sang anak semata wayangnya itu. Kulihat matanya semakin bening atau mungkin karena kebanyakan berlinang air mata?

Setelah semuanya diam dan mereka enggan siapa yang mulai membuka percakapan awal, kulihat bayangan seorang wanita tak beralas kaki dan sedikit membungkuk menghampiri sudut belakang pondok mungil tempat ayah dan anaknya beristirahat seharian tanpa makan sekalipun. Keranjang yang di bawahnya penuh dengan ubi-ubian yang mungkin akan menjadi kejutan bagi kedua orang lumpuh yang hanya mampu meneteskan air mata ketika sedang dilanda kelaparan.

Bayangannya pun semakin terlihat jelas sontak saja rasa lelah yang kelihatan berhamburan setelah sang anak harus mengamuk kembali atas ketidakpuasannya itu. Wajahnya memelas sambil ia menyapa anaknya dengan ramah, kulihat Si anak mulai menyondorkan tangannya sembari memberi pelukan hangat pada ibunya. Matanya membening, ingin rasanya tidak mau melepas pelukan pada ibunya itu.

Mungkin pertemuan adalah obat dari kerinduan yang kian lama terpenat dalam hati kala kesibukan mengatur segalanya. Pelukan erat yang diberikannya semakin membuncah dan terharu ketika kedua matanya harus membening lagi sembari sang ayah yang tadinya hanya bengong dan tak tau apa seharusnya yang mau diungkapkannya,  berharap bahwa kekosongan perutnya akan segera diisi.

Sejam kemudian Ku lihat si Anak yang tadinya mengamuk dan kini harus bertunduk pada ayahnya. Entalah Ia menyesal atas tingkah dan ucapannya pada ayahnya sebelum emaknya pulang. Seketika itu juga Ia menghampiri ayahnya dan memohon maaf atas tingkah dan ucapannya sembari Ia melontarkan sepata kata yang masih Ku ingat walau hanya sekejap saja “Istirahatlah pak badanmu punya hak untuk berbaring, dan matamu punya hak dan Pejamkanlah besok kamu harus bangun pagi sebelum mimpimu pergi, kasihan, apabila dia tersesat dia tak akan kembali lagi, “kira-kira seperti itulah ledakan kata yang dilontarkan oleh anak semata wayangnya itu.

Pagi seakan penuh tanya tentang usaha, siang kelelahan, dan sore menyapa dengan seberkah hasil seharian. Pagi itu kelihatan cerah dan wajah tampan sang ayah mulai kelihatan cerah seketika. Aku tak tahu kenapa semanis itu wajahnya pagi ini. Kokokan ayam milik tetangga mulai terdengar kembali setelah semalam harus melepas lelah, suasana sekeliling pondok mulai  ramai kembali setelah semuanya melepas mimpi.

Lalu kulihat Gulungan Rokok favorite Pak Tua itu. Sembari di atas meja pujaan mama dihidangkan menu kepala  Ikan Kering sebagai tumpuan lambung pagi itu. Semuanya serba berkecukupan tapi ayahku selalu bilang : Nak, tidak perlu engkau bergaya sok mewah.  Intinya apa yang engkau punya itu yang engkau nikmati.

Mentari kembali terbit, mulai kutengok di samping pondok mungil itu, bambu selebar bangku gereja paroki itu telah disediakan cangkul sebagai bentuk tanda bahwa pak tua sebagai petani benaran. Kokokan ayam tetangga tak henti-hentinya memecahkan kesunyian yang tadinya membisu, semuanya sedang menikmati sarapan pagi yang penuh berkah dan beraromah debu serta asap tungku api dapur itu.

Sejam kemudian kulihat sih pak Tua tertati-tati menghampiri sudut belakang pondok mungil itu dengan sigap dan menyiapkan perlengkapan kerjanya dan tak lama pula seketika itu pandanganku mulai berubah dan tak harus berkata sepata kata pun ketika pak tua harus kembali ke ladangnya.

“Selek Kope, Seraung pande nau” dan tak lupa cangkul tajam yang tadinya bersandar manis di samping pondok mulai dimanjakannya dan meletakannya di atas bahu sebagai tombak.

Binaran cahaya di sela dedaunan mulai mebendung ketika gulungan rokok favorite pak tua mulai dihisap tak menentu  sebagai penyemangat dan penangkis cekatan dingin pagi itu. Langkah kaki tanpa alas itu hampir masih bisa terhitung hentakan kaki  seakan serasi dengan racikan embun pagi yang masih enggan melepas rindu dari dedaunan, suasana seakan penuh keramahan ketika sang anak semata wayangnya itu mulai melontarkan pesan manis buat ayahnya “Pak..Jangan lupa istirahat yah,”Entah si Pak tua mendengarkan pesan singkat anaknya itu lalu kulihat Ia mencoba menoleh sembari melontarkan senyum penuh keramahannya dan mulai melambaikan tangannya “Engkau adalah pahlawan tanpa tau kapan dirimu beristirahat, jangan lupa istirahat yah ketika harimu sudah penuh dalam mengadu nasip sama usahamu.

“Kulihat ayahnya mulai berpaling setelah mendengar ucapan anaknya itu lalu seketika itu juga bayanganya mulai menghilang di sela dedaunan pada musim dingin kala itu. Dilihat dari raut wajahnya Ia mungkin sedang berpikir tentang anaknya yang seketika itu saja meberikan perhatian padanya karena mungkin biasanya Ia adalah anak yang suka dimanja tanpa memandang situasi dan kondisi, “Aku telah bersalah padanya, aku berdosa padanya, aku telah membuat dia harus menangis karena nahasehatku semalam, dan aku juga bersyukur karena aku berhasil menenangkannya aku berhasil buat dia sadar akan keberadaan keluarga kami yang sesungguhnya.”Seperti itulah bisikan hati sang ayah setelah iya melangkah kaki dan melanjutkan perjalanannya.

Mentari mulai berpaling, tiba-tiba aku berusaha mengalihkan pikiranku padah kisah lama tentang sih pak tua yang kala itu harus beristirahat di atas ranjang karena sakit, juga gara-gara bekerja terlalu berlemburan sampai tak tau harus beristirahat pada malam hari. Tak kusadari air mataku perlahan mulai turun, aku juga tak menyadari apa yang sebenarnya tejadi atas haluku. Sesaat kemudian aku mengalihkan pandanganku pada lorong setapak kecil berbengkok itu sembari kulihat sosok pemuda berbadan tegar dan berkulit sawo matang menghampiri arahku dan tak lupa pula ia masih saja memanjakan Cangkul tajam favoritnya di atas bahu. “Kemudian aku tak menyadari kalau ia sudah pulang dan hari sudah kembali pada malam” Pak istirahatlah ” Seperti itulah ucapan manis yang mampu ku lontarkan sore itu.

Seketika itu juga Pak Tua mulai tertati tati menghampiri sepertinya tak punya daya tahan lagi untuk berjalan dan tak  bisa berbuat apa-apa. Badannya melemas atau mungkin karena telalau ful kerjanya seharian bibirnya kelihatan memucat tak kusangka sampai sekarat itu dia bekerja selama seharian. Lantas semuanya sudah berubah suasana, pagi sore, dan malam tak sama seperti biasanya.

Pak Tua sudah semakin sekarat dan tak bisa bekerja lagi, seketika itu juga kulihat anak semata wayangnya terus meneteskan air mata penuh penyesalan. Dia sadar akan tingkah dan ucapannya kali lalu dan semuanya akan berakhi, sontak saja sang ayah berusaha memberi nasihat pada sang anak walau hanya sepata-kata saja “Nak..Aku bangga padamu dan aku senang engkau menjadi anak bapa, jadilah anak yang baik dan penurut. “Ucapan ini sebagai pesan terakhir sang ayah pada anaknya. Namun setelahnya berakhir dengan hembusan nafas terakhir sembari berangkat dan pulang dan tak akan kembali selamanya.

Setiap orang punya cara untuk menjadi orang yang sukes dan kembali diasuh sama Orang pertama yang mencintaimu (Orang Tua) dan buatlah mereka nantinya akan tertawa bahagai ketika melihatmu sukses dan jangan menjadikan orang tuamu seperti buronan kerja karena suatu saat nanti mereka akan pulang dan tak akan kembali seperti induk burung pipit yang berani merantau demi anak dan keluarganya dengan komitmen akan pulang dan membawa perubahan.

Oleh : Kasianus Roin, Alumnus SMAK Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo

                                                                      

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here