Nataslabar.com– SMPN 1 Satarmese meningkatkan kualitas pembelajaran guru di kelas melalui program Lesson Study  yang dimulai pada Senin, 29/08/2022.

Program Lesson Study adalah salah satu program unggulan sekolah sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran di kelas maupun pembelajaran di luar kelas terutama untuk guru, yang harapannya berdampak pada peningkatan kualitas belajar peserta didik itu sendiri.

Sebagai kegiatan perdana, Lesson Study ini dijadwalkan akan dilaksanakan setiap bulan untuk tiga mata pelajaran. Pada bulan pertama 29-31 08/22 ada tiga mata pelajaran (Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA).

Dalam keterangannya, kepala SMPN 1 Satarmese, Kornelis Sehadun, S.Ag membeberkan beberapa hal terkait penyelenggaraan kegiatan tersebut.

“Saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh pendidik dan tenaga kependidikan di lembaga ini serta peserta didik atas terselenggaranya program lesson study tahap pertama ini. Ini adalah awal yang baik untuk terus berupaya meningkatkan kualiatas pembelajaran. Harapanya peningkatan kualitas pembelajaran akan berdampak langsung pada peningkatan kualitas belajar peserta didik”. Jelas Kornelis.

Ia melanjutkan “konsep ini adalah salah satu program unggulan sekolah, selain kami juga telah melaksanakan program unggulan lainnya. Seperti program pengabdian kepada masyarakat, bimbingan khusus bagi peserta didik yang teridentifikasi mengalami keterlambatan pada literasi dasar  membaca, tulis, hitung, melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler sesuai bakat, minat serta potensi peserta didik itu sendiri yang dipadukan pada jam efektif sekolah yang dilaksanakan setiap hari Jumat”. Lanjutnya.

“Adapun kegiatan ekstrakurikuler yang telah terlaksana adalah 1. Olahraga (bola kaki putra, bola voli putra/i, takraw putra/i, atletik), 2. Seni (tari, vokal, musik dan menggambar), 3. Kelompok Ilmiah (Matematika, IPA dan IPS), 4. Kuliner dan 5. Jurnalistik. Meski kami belum melaksanakan Implementasi Kurikulum Merdeka secara penuh, setidaknya kegiatan-kegiatan di atas adalah inti dari kurikulum merdeka ” tutupnya.

Sementara itu Maksimus Edon, S.Pd.,Gr Wakil kepala sekolah memberikan penjelasan tentang program lesson study yang dilaksanakan.

Lesson study adalah kegiatan replikasi dari Jepang di mana secara sederhanannya yaitu mengambil pelajaran berharga dari aktivitas yang dilaksanakan. Pada pelaksanaannya terdapat 3 tahapan penting yang perlu dilaksanakan (perencanaan, pelaksanaan dan refleksi).

Belajar
Ket. Guru Model Mengajar Foto : Dok SMPN 1 Satarmese

Baca jugaKepala Sekolah dan Guru Jenjang SD se-Kecamatan Satarmese Mengikuti Workshop Implementasi Kurikulum Merdeka

Masih menurut guru Bimbingan konseling ini, pada tahap perencanaan guru rumpun secara bersama-sama merancang pembelajaran terkait materi, metode, teknik, media pembelajaran, lembar kerja peserta didik, dan evaluasi yang semuanya itu akan disesuaikan dengan karakteristik serta profil belajar peserta didik. Setelah itu mereka akan menentukan 1 orang untuk menjadi guru model.

Tahap kedua adalah tahap pelaksanaan. Pada tahap ini guru rumpun yang tidak menjadi guru model akan bertindak sebagai pengamat (observer) ditambah Kepala sekolah sebagai supervisor dan wakil kepala sekolah menjadi pengamat tambahan. Pada kegiatan observasi tersebut, observer akan melihat aktivitas peserta didik di kelas, jadi fokusnya bukan guru melainkan aktivitas belajar peserta didik. Karena prinsipnya adalah aktivitas belajar peserta didik sangat erat kaitanya dengan aktivitas mengajar guru di kelas.

Tahap yang ketiga adalah refleksi. Pada kegiatan refleksi ini guru model, obeserver dan kepala sekolah langsung melaksanakan kegiatan refleksi yang dipandu oleh salah seorang moderator. Tahap pertama dalam kegiatan refleksi ini moderator memberikan kesempatan kepada guru model untuk menyampaikan perasaanya, serta penilaianya sendiri apa yang menjadi kekuatannya pada pembelajaran yang telah berlangsung serta kekurangannya.

Setelah itu baru dilanjutkan dengan hasil observasi dari masing-masing observer. Pada kegiatan ini observer menyampainkan poin-poin penting temuanya berdasarkan format yang telah diisi. Jadi yang disampaikan observer itu adalah fakta-fakta (bukan opini atau pendapat tentang guru model maupun peserta didik) dan catatan berharga atau pelajaran berharga yang diperoleh observer dari pembelajaran yang telah dilaksanakan oleh guru model tersebut.

Tahap berikutnya Kepala Sekolah memberikan masukan berdasarkan temuanya untuk perbaikan guru model maupun guru lainnya. Kegiatan akhirnya adalah kesimpulan yang dibuat oleh guru model berdasarkan temuan-temuan observer serta masukan kepala sekolah.

Guru-guru
Guru-guru Tengah Serius mendengarkan arahan. Foto Dok SMPN 1 Satarmese.

Sementara itu Paulus Septem, S.Pd, yang mendapat jadwal pertama sebagai guru model dari mata pelajaran Bahasa Indonesia menyampaikan temuannya dengan terlaksananya kegiatan lesson study ini.

“Saya sangat senang sekali, jujur karena baru pertama kali kegiatan lesson study ini dan saya sangat bangga. Catatan berharga yang saya peroleh dari kegiatan lesson study ini saya bisa mengoreksi proses pembelajaran selama ini kurang saya terapkan dengan baik dan ini menjadi pelajaran yang berharga buat saya kedepan untuk melaksanakan proses KMB di dalam kelas lebih baik lagi”. Jelas Paulus.

“Ada perbedaan proses pembelajaran hari ini dengan proses sebelumnya, di mana selama ini masing-masing guru merancang pembelajaran secara sendiri-sendiri tetapi dengan kegiatan lesson study ini kami guru rumpun berdiskusi untuk merancang pembelajaran secara bersama-sama. Sehingga yang saya rasakan tadi anak-anak sangat antusias mengikuti pembelajar, mungkin karena saya sungguh-sungguh mempersiapkan materi dengan baik serta dapat menggunakan teknik hasil diskusi dari teman-teman guru rumpun. Harapannya kegiatan ini dapat terus dilaksanakan di SMPN 1 Satarmese tidak untuk tahun ini saja kalau bisa untuk tahun-tahun seterusnya”. Tutupnya.

Kontributor: Kelompok Jurnalistik SMPN 1 Satarmese

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here